logo

Ketika Santri Menggeluti Agribisnis di Pesantren Al Ittifaq Bandung

 JAKARTA - Menjadi santri di pondok pesantren sering dibayangkan hanya berkutat dengan ilmu agama dan kegiatan mengaji Al Quran dari pagi hingga malam hari.

Namun di Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, para santri tidak hanya diajari mengaji ataupun belajar ilmu agama, sebaliknya mereka dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor pertanian atau agribisnis.

 

Bahkan, saat ini dari usaha agribisnis yang dilakukan para santri tersebut mampu memasok produk sayur-mayur ke pasar-pasar modern di Bandung hingga ke luar wilayah bahkan ke Jakarta.

Meskipun saat ini sudah dikatakan sukses sebagai Unit Usaha Agribisnis namun keberhasilan pondok pesantren yang didirikan KH Mansyur pada 1 Februari 1934 dalam mengembangkan usaha agribisnis tersebut tidaklah diraih dalam waktu yang singkat dan tanpa perjuangan.

Pada awalnya Pondok Pesantren Al Ittifaq tergolong ke dalam jenis pondok pesantren Salafiyah (tradisional/non sekolah). Sistem pendidikan yang diterapkan saat itu cukup kolot di mana para santri diharamkan belajar menulis latin, tidak boleh kenal dengan pejabat pemerintah karena dianggap penjajah, tidak diperbolehkan membuat rumah dari tembok, tidak bolah ada alat elektronika seperti radio, televisi, mikrofon.

Pada 1953 kepemimpinan diteruskan oleh H Rifai hingga wafatnya pada 1970 yang kemudian dipegang oleh KH Fuad Affandi (cucu KH Mansyur) hingga kini.

Pengelolaan pendidikan yang seadanya menyebabkan perkembangan amat sangat lamban bahkan cenderung berjalan di tempat, ditambah keengganan untuk membuka diri dan kurangnya pengetahuan mengenai potensi daerah.

Lambat laun KH Fuad Affandi menerapkan pendidikan yang lebih modern, sejak 1970 mencoba memadukan antara kegiatan keagamaan dengan kegiatan usaha pertanian atau agribisnis di pesantren yang terletak di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Ciburial itu.

Pemilihan untuk mengembangkan usaha agribisnis tersebut menurut Fuad Affandi karena sesuai dengan potensi alam yang ada di sekitar pesantren yakni wilayah pegunungan berhawa sejuk.

Selain itu dirinya menilai sektor pertanian sesungguhnya merupakan berkat yang paling besar karena sektor ini mampu menghidupi beratus-ratus makhluk hidup dari mulai serangga, binatang hingga manusia.

"Di muka bumi ini tak ada pekerjaan yang paling mudah selain bertani, karena tak membutuhkan syarat-syarat khusus dan siapapun boleh melakukannya. Kenapa ini disia-siakan," ujarnya.

Dia juga berpendapat sekrisis apapun ekonomi bangsa ternyata yang paling aman adalah kegiatan pertanian.

Apa yang dirintis pimpinan pesantren yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) itu ternyata membuahkan hasil nyata, kegiatan usaha pertanian berlangsung hingga saat ini bahkan menjadi tulang punggung kegiatan pesantren.

Dalam menjalani pendidikannya santri Pondok Pesantren Al Ittifaq yang datang dari berbagai pelosok di Tanah Air, yang mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan anak yatim piatu tidak dipungut biaya.

"Untuk keperluan makan, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil usaha pertanian yang dikelola para santri," kata KH Fuad Affandi.

Pondok pesantren Al Ittifaq dalam melaksanakan kegiatan agribisnisnya melibatkan para santri sehingga mereka selain dibekali ilmu agama juga ilmu agribisnis.

Oleh karena itu banyak almuni santri juga melakukan usaha dalam bidang agribisnis dan umumnya berhasil.

Kegiatan usaha yang dilakukan di pesantren tersebut memiliki dampak ganda terhadap proses pendidikan, selain sebagai sarana pemenuhan kebutuhan warga pesantren juga menekan biaya produksi sehingga produk yang dihasilkan dapat memiliki nilai keunggulan kompetitif dan komparatif serta menjadi laboratorium bagi penumbuh kembang jiwa mandiri dan wirausaha santri.

Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan PP Al Ittifaq yakni mencetak santri yang berakhlak mulia, mandiri dan berjiwa wirausaha.

Saat ini pondok pesantren Al Ittifaq resmi sebagai Unit Klinik KOnsultasi AGribisnis diantaranya Pusat Inkubator Agribisnis, merupakan tempat inkubasi untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil sebagai pemula menjadi usaha yang lebih mandiri.

Kemudian tempat pelatihan agribisnis bagi para santri dan masyarakat tani sekitarnya juga para petani maupun UKM dari beberapa wilayah dan dinas pemerintahan.

Usaha agribisnis yang dilakukan ponpes tersebut yakni memproduksi sayuran dataran tinggi untuk memenuhi permintaan pasar tradisional maupun pasar modern dan supermarket.

25 komoditas Jumlah komoditas yang diproduksi sekitar 25 jenis sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel dan jagung semi.

Memproduksi komoditas sayuran yang siap untuk konsumen pasar sawalayan dan pasar modern melalui sortasi, grading, packing, wrifing dan labeling sesuai permintaan pasar.

Membuat dan mengembangkan bahan dasar pembuatan kompos untuk pupuk tanaman pangan dan hortikultura yang siap dipakai. Bahan dasar tersebut telah diperdagangkan secara luas dengan kode perdagangan MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami) yang mana lokasi pembuatan di Garut.

Mengembangkan usaha penggemukan sapi dan domba. Fungsi ternak selain kotorannya dipergunakan untuk kompos juga sebagai biogas.

Luas lahan pertanian yang diusahakan langsung oleh Pondok Pesantren mencapai 14 hektar yang dibagi dalam enam kemandoran dan dikelola oleh para santri dengan sistem pengembangan kemandoran.

Kebun Rawabogo dengan luas lahan 4 hektar terbagi dalam empat kemandoran dimana tiap-tiap kemandoran dipimpin satu orang mandor dengan melibatkan 80 santri sebaga tenaga pelaksana lapangan.

Kebun Sukahaji (1 ha), satu mandor dan 12 santri, Warung Tungtung (2 ha) satu kemandoran dan 13 santri.

Pasirhoe (1 ha) dipimpin satu mandor dan melibatkan 13 santri, Hanjung Beureum (2 ha) satu mandor dan satu santri, Ciburial (3 ha) satu mandor dan 22 santri.

Sejak 1993 Pondok Pesantren Al Ittifaq mengadakan kerja sama jangka panjang dengan perusahaan mitra yakni Hero (sekarang Giant) Jakarta, Makro (Jakarta), serta sejumlah pasar swalayan di Bandung.

Pesanan sayuran dari pondok pesantren tersebut untuk pasar swalayan setiap hari (pada Juni 1998) tak kurang dari lima ton.

Sejak 1997 untuk lebih meningkatkan kualitas usaha pertaniannya maka PP tersebut mendirikan Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq (Kopontren Alif). Melaui koperasi inilah produk sayuran yang dihasilkan oleh santri dan masyarakat dipasarkan ke berbagai supermarket di Bandung dan Jakarta.

Menyinggung omset usaha agribisnis yang dijalankan Pondok Pesantren Al Ittifaq, Fuad mengungkapkan uang yang beredar setiap harinya Rp3 miliar atau setiap hari tak kurang sebanyak 3 mobil sayuran yang harus dikirim ke pasaran.

Terdapat lima kelompok tani yang merupakan pendukung utama Kopontren yaitu Kelompok Tani One dengan jumlah anggota 380 petani dan luas lahan 68 ha.

Kelompok Tani Al Ittifaq dengan anggota 326 orang santri dan guru dengan lahan 14 yang digarap oleh pondok pesantren. Komoditas yang diusahakan yakni sayuran, peternakan sapi dan domba, perikanan serta garmen.

Kelompok Tani Hasil Mekar Sayur (HMS) jumlah anggotanya 28 orang dan luas lahan 22 ha, Kelompok Tani Jampang Endah (18 ha) dengan anggata 25 orang dan Kelompok Tani Tunggul Endah (9 ha serta 13 orang petani).

Bagi para santri terutama pria, sebagai pengelola lapangan dikelompokkan berdasarkan minat dan ketrampilan. Setiap kelompok berkisar 10-20 orang, kecuali kelompok tertentu jumlahnya lebih sedikit seperti kelompok peternakan hanya 4-5 orang kerena populasi ternak masih sedikit.

Kelompok tersebut setiap periode tertentu diputar agar semua santri merasakan dan mengetahui kegiatannya. Khusus santri wanita diberdayakan hanya melaksanakan kegiatan pengemasan, garmen dan kerajinan.

Upaya menanamkan cinta agribisnis terhadap para santri dilakukan Fuad sejak dini sehingga yang terlibat dalam usaha tersebut dari yang berada di tingkat SD, SMP hingga SMA.

Untuk yang tingkat SD umumnya dilibatkan dalam kegiatan budidaya, sedangkan santri setingkat SMP di bagian administrasi dan untuk SMA difokuskan pada marketing.

Para santri yang terjun dalam bidang agribisnis setelah keluar dari pondok pesantren disarankan untuk dapat membentuk kelompok tani, selanjutnya hasil dari pertaniannya dikirim ke pondok pesantren Al Ittifaq.

Banyak di antara petani yang berasal dari alumnus santri Al Ittifaq yang berhasil menarik santri alumnus untuk bekerja di lahan usaha agribisnisnya.

Tak hanya itu adanya kegiatan agribisnis di Pondok Pesantren Al Ittifaq selain menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan bagi para pengelola dan santri-santri di pondok tersebut juga masyarakat sekitar.

Ponpes melibatkan masyarakat setempat baik dalam memproduksi suatu komoditi maupun dalam pengembangan kelembagaan koperai Pondok Pesantren dan Balai Mandiri Terpadu.

Kesuksesan Pondok pesantren Al Ittifaq mengembangkan usaha agribinsi menjadikan pondok pesantren itu sebagai tempat magang atau pelatihan agribisnis dari santri-santri dari pondok pesantren lain di luar daerah, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, petani dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari luar negeri.

Sumber : Antara

Tinggalkan komentar disini